Arsip untuk Informasi Seputar Aliran Kesenian

Lomba Poster Tradisional sampai ”Art Nouveau”

Tradisional sampai ”Art Nouveau”
Lomba Poster Narkoba Badan Narkotika Propinsi Bali

Karakter dasar sebuah poster adalah kemampuannya untuk menarik dan memukau perhatian orang saat pertama melihatnya. Perhatian dan ketertarikan pada poster ini tak saja karena warnanya, keindahan dan bernasnya makna tulisan dalam poster, tetapi daya pikat secara keseluruhan yang mungkin tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Keberhasilan sebuah poster dapat dilihat atau dirasakan melalui dampak yang ditimbulkannya atau dari kuatnya daya tarik hiasan poster sebagai karya seni.KATA poster berasal dari kata post yang berarti “memasang” atau “menempatkan”. Dalam hal ini, poster berfungsi sebagai pengumuman atau iklan yang disebarkan secara luas. Khusus untuk lomba poster penangulangan narkoba, tentu poster yang dilombakan diharapkan mampu memikat orang untuk masuk ke dalam masalah bahaya narkoba dan mampu memancing sentimen serta empati seseorang atau orang banyak terhadap bahaya narkoba. Poster yang dikenal saat ini diperkirakan berkembang sekitar tahun 1860-an saat ditemukannya litografi sehingga bisa dibuat poster-poster dengan warna cemerlang dengan biaya murah. Salah satu seniman besar poster modern adalah Jules Choret yang berhasil membuat poster teater tahun 1867. Saat itu lukisan-lukisan seniman ini merajalela di Paris. Inilah yang kemungkinan memicu munculnya seniman-seniman yang memilih seni poster sebagai media ekspresi. Akhirnya tumbuh dan berkembang bermacam-macam gaya poster. Poster yang berisikan lukisan tradisional, figur-figur dramatik yang hidup dan terakhir melahirkan gaya baru yang dikenal sebagai art nouveau — sebuah gaya yang memadukan keindahan dekoratif dengan kesadaran sosial yang kuat. Sehingga, tak heran poster kemudian menjadi seni perpaduan antara seni murni dan seni populer yang bersifat dan massal.

Kecenderungan Baru
Dalam lomba poster yang digelar Badan Narkotika Propinsi Bali, 8-9 Januari lalu di Wantilan Gedung DPRD Bali, spesifikasi gaya poster tersebut terlihat jelas — dari gaya tradisional sampai art nouveau, bahkan ada kecenderungan baru yakni munculnya poster gaya baru yang mendekati komik-komik Jepang.Lihatlah misalnya gaya poster art nouveau yang dibuat Budi Riyanta. Peserta ini mulai menggoreskan kertasnya dengan warna hitam yang cemerlang, di atasnya diberi tulisan merah menyala berbunyi “Waspadai Narkoba!” yang rapi sekaligus kekar. Di tengah-tengah bidang dibuat ruang dengan gradasi warna dari putih, kuning, sampai oranye. Bidang ini diisi tulisan coklat kemerahan berbunyi “Karena datang tak dijemput, pergi sisakan maut”. Di bawahnya terlihat sesosok wajah mengerang di antara botol-botol minuman, jarum-jarum suntik dan tempat obat-obatan. Keserasian dan kesesuaian gambar dan tulisan, pewarnaan, penangkapan daya nalar terhadap bahaya narkoba, kerapian dan kebersihan gambar serta keindahan karya peserta ini membuatnya dipilih sebagai pemenang.Gaya yang hampir sama ditunjukkan oleh Sakaniko SB yang kaya terpilih sebagai juara II. Hanya saja karya peserta ini sedikit lebih lemah dibanding karya Budi Riyanta. Tetapi yang perlu dicatat pada kedua peserta ini adalah keduanya memakai cat khusus untuk poster, sehingga berwarna cemerlang dan cepat kering. Gaya yang agak berbeda ditunjukkan oleh Kadek Wisnawa (juara III) yang membuat poster bernuansa tradisional dengan memasukkan tokoh rangda yang berdiri memegang tanda lalu lintas berisi gambar jarum suntik, sedangkan di sampingnya dua orang berpakaian adat Bali dalam sikap memberi salam. Di depannya digambarkan sosok yang berisi tulisan “Terpidana Mati Narkoba” dengan kaki dibebani pemberat yang bertuliskan 100 km.

Menghargai Semangat
Terkait dengan lomba poster tersebut, Joger — salah seorang juri — mengaku sangat salut dengan semangat peserta. “Dari mulai mencoret saja sudah baik, saya sangat menghargai semangat peserta,” kata Joger yang tadinya berharap semua peserta bisa dimenangkan. Yang terpenting, menurut tokoh yang dikenal sebagai “pabrik kata-kata” ini, seseorang harus tahu diri, dari sini baru bisa mengembangkan diri untuk kemudian percaya diri.“Semua bagus karena setiap orang pada dasarnya punya darah seni, tetapi harus kreatif, punya komitmen, rajin berlatih dan punya sikap, sehingga akhirnya punya ketrampilan,” papar Joger. Ia kemudian mencontohkan peserta yang akhirnya terpilih sebagai juara I. “Dari sejak mulai, kita sudah lihat peserta itu trampil dan akan jadi juara,” tambahnya. Juara I, II, III, dan Harapan dalamlomba ini adalah sbb.; (umur 17-20 tahun) Budi Riyanta (SMAN 1 Denpasar), Sakaniko SB (SMAN 1 Denpasar), Kadek Wisnawa (SMAN 2 Denpasar), dan Putu Eka Guna Yasa (SMPN 2 Gianyar); (umur 12-16) I Komang Dodik Indrawan (SMA Sumerta Pariwisata Denpasar), I Gede Erwin Prasadha (SMA PGRI Denpasar), Keith Adrian (SMA Soverdi, Tuban, Badung) dan Widiantara (SMA Pembangunan Denpasar). Sedangkan lomba membuat poster untuk masyarakat umum yang diwakili oleh warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan Denpasar, Juara I, II, III dan Harapan secara berurutan diraih oleh peserta No.14, 2, 11, dan 15.

Tinggalkan sebuah Komentar

Liputan Art Nouveau, Seni Rupa Abad Milenium

08/10/2000 20:41
Art Nouveau, Seni Rupa Abad Milenium

Liputan6.com, Washington DC: Museum National Gallery of Art di Washington DC mulai pekan ini akan menghadirkan kembali aliran art nouveau. Tidak tanggung-tanggung, 350 mahakarya mulai dari karya seni rupa pecah belah, lukisan, hingga seni ukir perabot dan arsitek digelar dalam pameran ini. Koleksi tersebut berasal dari 20 negara dan 80 museum di seluruh dunia.

Nama-nama tokoh art nouveau seperti Hector Guimard, Louis Majorelle, dan Francois Rupert Carabin turut hadir beserta mahakaryanya di hadapan publik Washington DC hingga 28 Januari 2001. Selanjutnya, pameran yang tergolong besar ini akan berlangsung di Museum Metropolitan Art Tokyo mulai 21 April pada tahun yang sama.

Kurator Museum Victoria and Albert dari London, Paul Greenhalgh mengatakan, perjalanan seni dan budaya menembus waktu telah membuahkan hasil yang dramatis pada setiap pergantian abad. Mulai dari revolusi seni di Prancis pada abad ke-18. Dilanjutkan dengan perkembangan dramatis lansekap tahun 1900. Selanjutnya, memasuki tahun 2000 ini timbul aliran seni yang mampu meraih citra populer yaitu art nouveau.

Gerakan seni yang lahir di Prancis seratus tahun silam ini sebenarnya masih tergolong muda dibandingkan dengan gerakan seni lainnya. Namun, menurut Greenhalgh, pengaruh art nouveau mampu mewarnai cara pandang dunia terhadap seni di masa jayanya. Karya-karya seni rupa itulah yang kini diseleksi sekelompok kurator seni di Amerika Serikat pada pameran akbar itu.(HFS/Ula)

Tinggalkan sebuah Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.